Selasa, 25 Oktober 2011

mekanisme obat kortikosteroid

KORTIKOSTEROID

Terdapat dua sistem pengaturan fungsi tubuh untuk menyesuaikan dan mempertahankan diri terhadap perubahan pengaruh lingkungan agar keadaannya selalu konstan dan seimbang (homeostasis), yakni melalui pengaturan oleh Sistem Saraf Vegetatif (Otonom) dan Sistem Kelenjar Endokrin.

Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengeluarkan hasil sekresinya (berupa hormon) langsung ke dalam sistem pembuluh darah, karena tidak mempunyai saluran atau kelenjar buntu. Ada tiga bentuk struktur kimia hormon yaitu Hormon Peptida/protein (kelenjar pankreas, hipotalamus), Hormon Asam Amino (Tirosin, Adrenalin / Noradrenalin) dan Hormon Steroid (Estrogen, Progesteron dan Kortikosteroid).

Kortikosteroid dan hormon kelamin (androgen dan estrogen) dihasilkan oleh kelenjar anak ginjal (adrenal) bagian korteks  (kulit). Sedangkan kelenjar adrenal bagian  medulla (sumsum) menghasilkan adrenalin dan noradrenalin.


Kelenjar adrenal mensekresi 2 hormon kortikosteroid yaitu Glukokortikoid dan Mineralokortikoid. Kedua kortikosteroid ini lazim disebut adrenokortikoid. Glukokortikoid utama pada manusia adalah kortisol dan mineralokortikoid utama adalah aldosteron. Kedua kortikosteroid ini disintesis dari kholesterol.


Perbedaaan kedua kortikosteroid ini disajikan pada tabel berikut :
Glukokortikoid
Perbedaan
Mineralokortikoid
Kortisol

Senyawa Utama

Aldosteron
Metabolisme :
Karbohidrat, Protein dan Lemak
Mineral dengan mengatur retensi Na dan K

Efek utama

Metabolisme :
Mineral dengan mengatur retensi Na dan Sekresi K, H
ACTH (Adreno Corticotropin Hormon)

Sekresi dipengaruhi oleh

Kadar Mineral (Na dan K) dan Volume Plasma.



Mekanisme Kerja kortikosteroid

Seperti hormon steroid lain, adrenokortikoid mengikat reseptor sitoplasmik intraseluler pada jaringan target. Ikatan kompleks antara kortikosteroid dengan reseptor protein akan masuk ke dalam inti sel dan diikat oleh kromatin. Ikatan reseptor protein-kortikosteroid-kromatin mengadakan transkripsi DNA, membentuk mRNA dan mRNA merangsang sintesis protein spesifik.
Seperti telihat pada gambar berikut :

Efek-efek Kortikosteroid

A.     Glukokortikoid

1.      Merangsang glikogenolisis (katalisa glikogen menjadi glukosa) dan glikoneogenolisis (katalisa lemak / protein menjadi glukosa) sehingga kadar gula darah meningkat dan pembentukan glikogen di dalam hati dan jaringan menurun. Kadar kortikosteroid yang meningkat akan menyebabkan gangguan distribusi lemak, sebagian lemak di bagian tubuh berkurang dan sebagian akan menumpuk pada bagian muka (moonface), tengkuk (buffalo hump), perut dan lengan.




2.      Meningkatkan resistensi terhadap stress. Dengan meningkatkan kadar glukosa plasma, glukokortikoid memberikan energi yang diperlukan tubuh untuk melawan stress yang disebabkan, misalnya oleh trauma, ketakutan, infeksi, perdarahan atau infeksi yang melemahkan. Glukokortikoid dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dengan jalan meningkatkan efek vasokontriktor rangsangan adrenergik pada pembuluh darah.

3.      Merubah kadar sel darah dalam plasma. Glukokortikoid menyebabkan menurunnya komponen sel-sel darah putih /  leukosit (eosinofil, basofil, monosit dan limfosit). Sebaliknya glukokortikoid meningkatkan kadar hemoglobin, trombosit dan eritrosit.

4.      Efek anti inflamasi.  Glukokortikoid dapat mengurangi respons peradangan secara drastis dan dapat menekan sistem imunitas (kekebalan).

5.      Mempengaruhi komponen lain sistem endokrin. Penghambatan umpan balik produksi kortikotropin oleh peningkatan glukokortikoid menyebabkan penghambatan sintesis glukokortikoid lebih lanjut.

6.      Efek anti alergi. Glukokortikoid dapat mencegah pelepasan histamin.

7.      Efek pada pertumbuhan. Glukokortikoid yang diberikan jangka lama dapat menghambat proses pertumbuhan karena menghambat sintesis protein, meningkatkan katabolisme protein dan menghambat sekresi hormon pertumbuhan.

8.      Efek pada sistem lain.  Hal ini sangat berkaitan dengan efek samping hormon. Dosis tinggi glukokortikoid merangsang asam lambung dan produksi pepsin dan dapat menyebabkan kambuh berulangnya (eksaserbasi) borok lambung (ulkus). Juga telah ditemui efek pada SSP yang mempengaruhi status mental. Terapi glukokortikoid kronik dapat menyebabkan kehilangan massa tulang yang berat (osteoporosis). Juga menimbulkan gangguan pada otot (miopati) dengan gejala keluhan lemah otot.


B.     Mineralokortikoid

Efek mineralokortikoid mengatur metabolisme mineral dan air. Mineralokortikoid membantu kontrol volume cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit (terutama Na dan K), dengan jalan meningkatkan reabsorbsi Na+, meningkatkan eksresi K+ dan H+. Efek ini diatur oleh aldosteron (pada kelenjar adenal) yang bekerja pada tubulus ginjal, menyebabkan reabsorbsi natrium, bikarbonat dan air. Sebaliknya, aldosteron menurunkan reabsorsi kalium, yang kemudian hilang melalui urine. Peningkatan kadar aldosteron karena pemberian dosis tinggi mineralokortikoid dapat menyebabkan alkalosis (pH darah alkalis) dan hipokalemia, sedangkan retensi natrium dan air menyebabkan peningkatan volume darah dan tekanan darah.



Indikasi Pemberian Kortikosteroid


  1. Terapi pengganti (substitusi) pada insufisiensi adrenal primer akut dan kronis (disebut Addison’s disease), insufisiensi adrenal sekunder dan tersier.
  2. Diagnosis hipersekresi glukokortikoid (sindroma Cushing).
  3. Menghilangkan gejala peradangan : peradangan rematoid, peradangan tulang sendi (osteoartritis) dan peradangan kulit, termasuk kemerahan, bengkak, panas dan nyeri yang biasanya menyertai peradangan.
  4. Terapi alergi. Digunakan pada pengobatan reaksi alergi obat, serum dan transfusi, asma bronkhiale dan rinitis alergi

 

Efek Samping dan Komplikasi


Efek samping terjadi umumnya pada terapi dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang kortikosteroida. Adapun efek samping dan komplikasi yang dapat terjadi meliputi :
  1. Metabolisme glukosa, protein dan lemak; Atropi otot, osteoporosis dan penipisan kulit.
  2. Elektrolit ; Hipokalemia, alkalosis dan gangguan jantung hingga terjadi gagal jantung (cardiac failure).
  3. Kardiovaskular; Aterosklerosis dan gagal jantung
  4. Tulang; Osteoporosis dan patah tulang yang spontan
  5. Otot; Kelamahan otot dan atropi otot.
  6. SSP dan Psikis; Gangguan emosi, euforia, halusinasi, hingga psikosis.
  7. Elemen pembuluh darah; Gangguan koagulasi dan menurunkan daya kekebalan tubuh (immunosupresi)
  8. Penyembuhan luka dan infeksi; Hambatan penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi
  9. Pertumbuhan; Mengganggu pertumbuhan anak, kemunduran dan menghambat perkembangan otak
  10. Ginjal; Nokturia (ngompol), hiperkalsiuria, peningkatan kadar ureum darah hingga gagal ginjal.
  11. Pencernaan; Tukak lambung (ulcus pepticum).
  12. Pankreas; Peradangan pankreas akut (pankreatitis akut).
  13. Gigi; Gangguan email dan pertumbuhan gigi.

Timbulnya efek samping dan komplikasi terkait dengan beberapa faktor, yaitu :
  1. Cara pemberian
  2. Jumlah pemberian
  3. Lama pemberian
  4. Dosis pemberian
  5. Cairan yang diberikan
  6. Kadar albumin dalam darah
  7. Penyakit bawaan.



Contoh Obat-obat Kortikosteroid


Beberapa obat kortikosteroid disajikan pada tabel berikut :

Obat (Generik)
Contoh (Patent)
Aktivitas 1)
Bentuk Sediaan
Anti-Inflamasi
Topikal
Retensi Na
Glukokortikoid kerja singkat (8-12 jam)





Hidrokortison
Cortef
1
1
1
Oral, suntikan, topikal
Kortison
Cortone
0,8
0
0,8
Oral, suntikan, topikal
Glukokortikoid kerja sedang (18-36 jam)





Prednison
Hostacortin
4
0
0,3
Oral
Prednisolon
Delta-Cortef, Prelone
5
4
0,3
Oral, suntikan, topikal
Metilprednisolon
Medrol, Medixon
5
5
0
Oral, suntikan, topikal
Triamsinolon
Kenacort, Azmacort
5
5
0
Oral, suntikan, topikal
Fluprednisolon
Cendoderm
15
7
0
Oral, topikal
Glukokortikoid kerja lama (1-3 hari)





Betametason
Celestone
25-40
10
0
Oral, suntikan, topikal
Deksametason
Oradexon, Decadron
30
10
0
Oral, suntikan, topikal
Parametason
Dillar, Monocortin
10

0
Oral, suntikan
Mineralokortikoid





Fludrokortison
Florinef, Astonin
10
10
250
Oral, suntikan, topikal
Desoksikortikosteron

0
0
20
Suntikan, pelet
Keterangan : Aktivitas 1) menggambarkan potensi relatif terhadap Hidrokortison.

DAFTAR PUSTAKA


            ; ISO Indonesia; Volume XXXV; Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia; PT. AKA; Jakarta; 2001
Harkness, Richard; Interaksi Obat; Penerbit ITB; Bandung; 1989
Kasan, Umar; Hormon Kortikosteroid; Penerbit Hipokrates; Jakarta; 1997
Katzung, G. Bertram; Farmakologi Dasar dan Klinik; Edisi keenam; EGC; Jakarta; 1998
Kee, Joyce L dan Hayes, Evelyn R; Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan; EGC; Jakarta; 1996
Mutschler, Ernst, Dinamika Obat, Edisi Kelima, Penerbit ITB, Bandung, 1991
Mycek, J. Mary, Harvey, A. Richard dan Champe, C. Pamela; Farmakologi, Ulasan Bergambar; Edisi kedua; Widya Medika; Jakarta 2001
Tan, Hoan, Tjay dan Rahardja, Kirana; Obat-obat Penting; Edisi Keempat; 1991
Woodley, Michele dan Whelan, Alison; Pedoman Pengobatan; Edisi Pertama; Yayasan Essentia Medica dan Andi Offset; Yogyakarta; 1995


Bahan ajar Farmakology, SMK FARMASI ISFI BANJARMASIN



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar